IDEA KE-1
ALAM SEBAGAI GULUNGAN PENGETAHUAN
(serial film Kunfu Panda bahwa jangan biarkan lautan ilmu tidak dikaji)
Ada sebuah seri, dimana tokoh Po
diberikan gulungan sebanyak 30 dan disuruh untuk membacanya. Dia tidak bisa
makan jika tidak membaca kesemuanya. Dia selalu bertanya “apakah tidak bisa
hanya membaca satu saja?” Che Fu bilang “tidak bisa”. Dengan terpaksa dia
membawa gulungan itu ke perpustakaan untuk dia baca. Dan dengan malas dia
membuka satu demi satu gulungan itu. Dan ada satu gulungan yang membuatnya
tertarik yakni ‘jurus menghilangkan ingatan orang’ karena jurus itu sangat
mudah. Dan segera dia praktekkan jurus itu kepada temannya. Dan satu persatu
ingatan dari Lima Pendekar hilang. Kini dia merasa khawatir karena tidak tahu
bagaimana cara mengembalikan apa yang telah berubah dari apa yang dia lakukan.
Dia kembali keperputakaan. Kembali guru Che Fu bertanya “sudah adakah
pengetahuan yang baru yang kau dapatkan?”. Dengan gaguk Po menjawab “sudah ada
guru. Tapi…” dia kemudian menjelaskan apa yang yang dilakukannya. Dan meminta
gurunya untuk tidak marah, karena dia hanya sedang belajar katanya. Dan
ternyata gurunya tidak marah hanya saja dia harus bertanggungjawab dengan apa
yang dia lakukan. Yakni dia harus mengambil guci yang berisi tanah liat di
lorong penyiksaan. Sementara di luar sana ada kekacauan yang sudah terjadi.
Lima pendekar dicucu otaknya oleh seorang penjahat. Bahwa guru Che Fu dan Po
adalah orang jahat yang harus dibunuh. Dengan itu, Lima pendekar ini hamper
saja membunuh gurunya sendiri. Namun kemudian Po tenyata berhasil melewati lorong
penyiksaan dan mengambil guci itu. dan kembalilah ingantan lima pendekar dengan
balitan tanah liat itu dikepalanya.
Seri dari film ini ada beberapa hal
yang menjadi pelajaran berharga bagi seorang pembelajar. Untuk awal saya ingin
membahas sebuah pertanyaan. Yakni “sudah adakah yang kau tahu hari ini?”
Pendekar Naga memiliki tugas untuk melindungin ummat manusia dari kejahatan
para penjahat. Jadi telah menjadi sebuah keharusan untuk mereka menjadi orang
hebat. Bersama guru mereka di sebuah Vihara terus mempelajari banyak hal. Ilmu
tentang kesabaran, ilmu tentang kerendahan hati mereka terus mempelajarinya dan
mengamalkannya. Serta mereka harus terus menanmbah kesaktian mereka dalam hal
jurus. Itulah tersedia ratusan ribu gulungan yang harus mereka pelajari setiap
hari.
Begitulah hidup demi menjadi orang
yang bermanfaat sebanyak-banyaknya, perlu mengisi diri dengan berbagai
kemampuan atau kemahiran. Dalam hal ini kemahiran mengerjakan hal-hal teknis
maupun kearifan-kearifan hidup, seperti kesederhanaan tadi.
Kita sebagai muslim ada banyak hal
kerifan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw sebagai orang penyampai risalah
dari Allah SWT. kesabaran, kesederhanaan, saling mengasihi antara ummmat
manusia, menjadi pemimpin yang mengayomi adalah sebagian kecil dari kearifan
itu. Kesemuanya untuk menjadikan bumi ini aman. kejahatan tidak merajalela,
orang jahat menjadi sedikit bahkan tidak ada, yang ada hanya saling tolong
menolong antara satu dengan yang lainnya.
Untuk itu sudahkah kita tahu semua
itu? telah berapa buku yang kita baca. Sudah berapa ayat Alqur’an yang kita
hafal dan kita pahami. Sudahkah kita tahu cara mendidik anak, sudahkah kita
tahu cara menyenangkan teman, sudahkah kita tahu mengirim e-mail, sudahkah kita
tahu cara mengendarai motor, sudahkah kita tahu cara mengoprasionalkan
computer, dan lain sebagainya. Semakin banyak yang kita tahu semakin banyak
yang bisa dimanfaatkan dari diri kita.
Hari ini sudahkah kita tahu apa
bahasa inggris atau bahasa arab “bagaimana kabar mu?” supaya kita paham bahwa
ummat manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling kenal mengenal. Dan tahu
bahwa itu ada ditulis dalam Q.S Al-Hujurat ayat 13. Agar tidak hidup secara individualis yang
menjadi penyebab rawannya permusuhan.
Atau hari ini sudahkah kita bisa mengayuh sepeda? Agar bisa diajarkan
kepada yang lain. karena kita merasa kasihan melihat mereka hanya bisa berjalan
kaki.
Seperti itulah, jika kita berdiam
diri dan tidak belajar, apa yang bisa kita berikan kepada kehidupan ini.
bagaimana mungkin kita menjadi pahlawan perdamaian jika kita saja tidak pernah
belajar bagaimana berdamai dengan orang sekitar kita. Bagaimana mungkin kita
bisa menolong orang untuk menyebrangi sungai, kalau kita tidak pernah belajar
mengoprasikan rakit atau alat yang lainnya. Kata kuncinya adalah hari ini
tambahlah ilmu mu!!!
Rasulullah SAW bersabda:أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ
“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”
Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup.
Sepeti Po dan guru Che Fu, memiliki
ratusan ribu gulungan berisi pengetahuan. Begitupun dengan pengetahuan di dunia
ini, bahkan juah lebih banyak lagi. Untuk menggambarkannya perlu ingat kembali
kalimat
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). [al-Kahfi/18:109]
قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). [al-Kahfi/18:109]

