Selasa, 09 Desember 2014

Alam sebagai Gulungan pengetahuan

IDEA KE-1
                 ALAM SEBAGAI GULUNGAN PENGETAHUAN
(serial film Kunfu Panda bahwa jangan biarkan lautan ilmu tidak dikaji)
Ada sebuah seri, dimana tokoh Po diberikan gulungan sebanyak 30 dan disuruh untuk membacanya. Dia tidak bisa makan jika tidak membaca kesemuanya. Dia selalu bertanya “apakah tidak bisa hanya membaca satu saja?” Che Fu bilang “tidak bisa”. Dengan terpaksa dia membawa gulungan itu ke perpustakaan untuk dia baca. Dan dengan malas dia membuka satu demi satu gulungan itu. Dan ada satu gulungan yang membuatnya tertarik yakni ‘jurus menghilangkan ingatan orang’ karena jurus itu sangat mudah. Dan segera dia praktekkan jurus itu kepada temannya. Dan satu persatu ingatan dari Lima Pendekar hilang. Kini dia merasa khawatir karena tidak tahu bagaimana cara mengembalikan apa yang telah berubah dari apa yang dia lakukan. Dia kembali keperputakaan. Kembali guru Che Fu bertanya “sudah adakah pengetahuan yang baru yang kau dapatkan?”. Dengan gaguk Po menjawab “sudah ada guru. Tapi…” dia kemudian menjelaskan apa yang yang dilakukannya. Dan meminta gurunya untuk tidak marah, karena dia hanya sedang belajar katanya. Dan ternyata gurunya tidak marah hanya saja dia harus bertanggungjawab dengan apa yang dia lakukan. Yakni dia harus mengambil guci yang berisi tanah liat di lorong penyiksaan. Sementara di luar sana ada kekacauan yang sudah terjadi. Lima pendekar dicucu otaknya oleh seorang penjahat. Bahwa guru Che Fu dan Po adalah orang jahat yang harus dibunuh. Dengan itu, Lima pendekar ini hamper saja membunuh gurunya sendiri. Namun kemudian Po tenyata berhasil melewati lorong penyiksaan dan mengambil guci itu. dan kembalilah ingantan lima pendekar dengan balitan tanah liat itu dikepalanya.
Seri dari film ini ada beberapa hal yang menjadi pelajaran berharga bagi seorang pembelajar. Untuk awal saya ingin membahas sebuah pertanyaan. Yakni “sudah adakah yang kau tahu hari ini?” Pendekar Naga memiliki tugas untuk melindungin ummat manusia dari kejahatan para penjahat. Jadi telah menjadi sebuah keharusan untuk mereka menjadi orang hebat. Bersama guru mereka di sebuah Vihara terus mempelajari banyak hal. Ilmu tentang kesabaran, ilmu tentang kerendahan hati mereka terus mempelajarinya dan mengamalkannya. Serta mereka harus terus menanmbah kesaktian mereka dalam hal jurus. Itulah tersedia ratusan ribu gulungan yang harus mereka pelajari setiap hari.  
Begitulah hidup demi menjadi orang yang bermanfaat sebanyak-banyaknya, perlu mengisi diri dengan berbagai kemampuan atau kemahiran. Dalam hal ini kemahiran mengerjakan hal-hal teknis maupun kearifan-kearifan hidup, seperti kesederhanaan tadi.
Kita sebagai muslim ada banyak hal kerifan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw sebagai orang penyampai risalah dari Allah SWT. kesabaran, kesederhanaan, saling mengasihi antara ummmat manusia, menjadi pemimpin yang mengayomi adalah sebagian kecil dari kearifan itu. Kesemuanya untuk menjadikan bumi ini aman. kejahatan tidak merajalela, orang jahat menjadi sedikit bahkan tidak ada, yang ada hanya saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya.
Untuk itu sudahkah kita tahu semua itu? telah berapa buku yang kita baca. Sudah berapa ayat Alqur’an yang kita hafal dan kita pahami. Sudahkah kita tahu cara mendidik anak, sudahkah kita tahu cara menyenangkan teman, sudahkah kita tahu mengirim e-mail, sudahkah kita tahu cara mengendarai motor, sudahkah kita tahu cara mengoprasionalkan computer, dan lain sebagainya. Semakin banyak yang kita tahu semakin banyak yang bisa dimanfaatkan dari diri kita.
Hari ini sudahkah kita tahu apa bahasa inggris atau bahasa arab “bagaimana kabar mu?” supaya kita paham bahwa ummat manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling kenal mengenal. Dan tahu bahwa itu ada ditulis dalam Q.S Al-Hujurat ayat 13.  Agar tidak hidup secara individualis yang menjadi penyebab rawannya permusuhan.    Atau hari ini sudahkah kita bisa mengayuh sepeda? Agar bisa diajarkan kepada yang lain. karena kita merasa kasihan melihat mereka hanya bisa berjalan kaki.
Seperti itulah, jika kita berdiam diri dan tidak belajar, apa yang bisa kita berikan kepada kehidupan ini. bagaimana mungkin kita menjadi pahlawan perdamaian jika kita saja tidak pernah belajar bagaimana berdamai dengan orang sekitar kita. Bagaimana mungkin kita bisa menolong orang untuk menyebrangi sungai, kalau kita tidak pernah belajar mengoprasikan rakit atau alat yang lainnya. Kata kuncinya adalah hari ini tambahlah ilmu mu!!!
Rasulullah SAW bersabda:
 أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ
 “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”
Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup.
Sepeti Po dan guru Che Fu, memiliki ratusan ribu gulungan berisi pengetahuan. Begitupun dengan pengetahuan di dunia ini, bahkan juah lebih banyak lagi. Untuk menggambarkannya perlu ingat kembali kalimat
 Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). [al-Kahfi/18:109]
Dapat kita bayangkan banyaknya tugas kita untuk mengkaji sebanyak yang kita bisa, selama masih ada kesempatan hidup yang Allah SWT berikan kepada kita. Jika demikian yang kita kerjakan maka tidak ada waktu yang akan tersia-siakan. Yang membuat kita menjadi orang yang merugi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar